Oleh: Syariat Tella
Ilham Ari Fauzi, di Antara Warisan Besar dan Tantangan Perubahan
Suatu ketika, rombongan parlemen Malaysia berkunjung ke ruang Fraksi PPP di DPR RI, Senayan. Dalam diskusi yang berlangsung hangat itu, salah seorang delegasi bertanya kepada Sekjen PPP saat itu, Arsul Sani:
*”Apakah PPP hanya diperuntukkan bagi kader beragama Islam, atau terbuka juga bagi pemeluk agama lain?”*
Arsul Sani menjawab tegas:
*”PPP tetap terbuka bagi kader selain Islam.”*
Jawaban sederhana itu ternyata menyimpan pesan besar. Meski dikenal sebagai partai Islam, PPP ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai yang mereka perjuangkan tidak menutup ruang bagi keberagaman. Bagi para tamu dari Negeri Jiran, sikap tersebut mencerminkan wajah PPP yang moderat, terbuka, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Mungkin tidak banyak yang menyadari, tetapi kemampuan membaca perubahan zaman adalah salah satu faktor yang menentukan usia panjang sebuah partai politik.
Dan hari ini, ketika PPP memasuki salah satu fase paling menentukan dalam sejarahnya, kemampuan beradaptasi itu kembali diuji.
Sebagai salah satu partai tertua di Indonesia, PPP telah melewati berbagai gelombang politik nasional. Dari era Orde Baru, Reformasi, hingga era digital saat ini. Namun perjalanan panjang itu tidak selalu mulus. Konflik internal, dualisme kepemimpinan, hingga kegagalan mempertahankan kursi di DPR RI pada Pemilu 2024 menjadi tantangan yang harus dihadapi secara jujur.
Di tengah situasi tersebut, satu hal mulai disadari banyak pihak: regenerasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.
Wajah-wajah baru mulai mendapat ruang. Generasi Milenial dan Generasi Z perlahan mengisi struktur partai, dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga DPP. Di Sulawesi Selatan, proses regenerasi itu bahkan terlihat lebih progresif dibanding banyak daerah lain.
Namun regenerasi selalu memiliki dua sisi.
Di satu sisi, generasi muda membawa energi baru, gagasan baru, dan cara pandang yang lebih dekat dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, mereka harus menghadapi ekspektasi besar untuk melampaui capaian generasi sebelumnya.
PPP Sulawesi Selatan pernah membuktikan bahwa generasi muda mampu menjadi kekuatan politik yang diperhitungkan. Di bawah kepemimpinan Imam Fauzan Amir Uskara, kader-kader muda PPP berhasil mempertahankan eksistensi partai di DPRD Sulsel dan bahkan mendudukkan kader pada posisi Wakil Ketua III DPRD Sulsel. Prestasi itu menjadi bukti bahwa api perjuangan generasi muda PPP belum padam.
Kini tongkat estafet itu berpindah.
Ilham Ari Fauzi A. Uskara dipercaya memimpin PPP Sulawesi Selatan periode 2026–2031. Di usianya yang relatif muda, ia menjadi salah satu ketua partai termuda di Sulawesi Selatan. Status tersebut tentu menghadirkan kebanggaan, tetapi sekaligus tantangan besar.
Sebab publik tidak hanya melihatnya sebagai seorang ketua baru. Publik akan mengukur apakah dirinya mampu membawa PPP melangkah lebih jauh dibanding generasi sebelumnya.
Namun sejauh ini, langkah awal yang ditunjukkan cukup menarik.
Di bawah kepemimpinannya, wajah-wajah muda mulai mengisi berbagai posisi strategis partai. Pelantikan pengurus dan Muskerwil I DPW PPP Sulsel di Claro Hotel Makassar pada 19–20 Juni 2026 menjadi gambaran awal bagaimana Generasi Z mulai membentuk karakter baru PPP.
Sentuhan teknologi, kreativitas visual, sinematografi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) menjadi bagian dari cara baru yang diperkenalkan. Sebuah pendekatan yang mungkin belum lazim dalam tradisi partai politik lama, tetapi sangat dekat dengan bahasa generasi muda saat ini.
Ilham tampaknya memahami bahwa tantangan terbesar PPP bukan hanya memenangkan pemilu. Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat generasi muda kembali percaya bahwa politik adalah ruang perjuangan yang layak untuk dipahami.
Karena itu, yang sedang dibangun bukan sekadar struktur partai, melainkan ekosistem baru yang mampu menjembatani pengalaman generasi senior dengan kreativitas generasi muda.
Perjalanan ini tentu tidak akan mudah. Jalan menuju kebangkitan selalu lebih sulit dibanding mempertahankan kejayaan. Namun sejarah politik mengajarkan bahwa partai yang mampu bertahan bukanlah partai yang paling tua, melainkan partai yang paling cepat beradaptasi terhadap perubahan.
Dan di Sulawesi Selatan, PPP tampaknya sedang mencoba membuktikan hal itu.
Di bawah komando Generasi Z, partai berlambang Ka’bah tersebut sedang menulis babak baru perjalanan politiknya. Babak yang akan menentukan apakah mereka mampu kembali ke masa-masa kejayaan, atau sekadar menjadi bagian dari sejarah.
Waktu yang akan menjawabnya. Namun satu hal yang pasti, langkah pertama menuju perubahan telah dimulai.













