Breaking News
Berita  

Paradoks PSEL di Tamalanrea Terletak pada Ironi Pembangunan”

Opini: Ahmad Yusran, Ketua Forum Komunitas Hijau.

Teknologi pengolahan sampah diklaim modern dan berorientasi solusi lingkungan.

Tetapi faktanya hari ini justru direncanakan berada di kawasan strategis pendidikan, kesehatan, dan permukiman padat.

Di satu sisi, negara berbicara tentang kota sehat, kualitas SDM, riset, dan masa depan generasi.

Namun di sisi lain, fasilitas berisiko polusi udara, abu residu, lalu lintas sampah, dan beban ekologis ditempatkan dekat ruang hidup akademik dan kesehatan masyarakat.

Tamalanrea bukan sekadar “lahan kosong”, tetapi ruang pengetahuan dan kehidupan. Ia dekat kampus dan pusat riset, kawasan rumah sakit dan layanan kesehatan, ruang tumbuh mahasiswa, anak, dan masyarakat urban.

Paradoksnya, wilayah yang seharusnya menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan dan kualitas hidup justru dibayangi infrastruktur berisiko ekologis.

Masalah utamanya bukan sekadar teknologi PSEL, tetapi, krisis tata ruang, minim partisipasi publik,
ketimpangan ekologis, dan cara pandang pembangunan yang lebih mengejar penyelesaian teknis daripada keadilan lingkungan.

Solusi terintegrasi, idealnya audit lingkungan dan kesehatan independen secara terbuka. Kajian ulang tata ruang berbasis daya dukung kawasan pendidikan dan kesehatan.

Prioritaskan pengurangan sampah dari hulu, melalui pemilahan, daur ulang, kompos, ekonomi sirkular.

Libatkan kampus, tenaga kesehatan, warga, dan komunitas lingkungan dalam pengambilan keputusan.

Pastikan prinsip keadilan ekologis, jangan menjadikan kawasan padat pengetahuan sebagai zona beban pencemaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *