*PT SUS Bungkam Soal Rute Armada dan Izin Amdal PSEL
METAINFO.ID,MAKASSAR — PT SUS Environment menggelar kegiatan dialog publik yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat, akademisi, tokoh komunitas, serta pemangku kepentingan untuk membahas isu lingkungan dan pengelolaan sampah perkotaan.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana terbuka tersebut dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan.
Dalam forum tersebut, perwakilan PT SUS Environment memaparkan gagasan dan teknologi pengelolaan sampah yang diklaim mampu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi sirkular dan energi yang lebih berkelanjutan.
Acara juga diisi sesi diskusi interaktif yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pandangan, pertanyaan, maupun masukan terkait dampak sosial, lingkungan, dan keberlanjutan proyek pengelolaan sampah yang sedang dikembangkan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi publik dan memperkuat keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan tata kelola sampah perkotaan.
Sementara itu Ahmad Yusran, Ketua Forum Komunitas Hijau memaparkan analisis kritis narasi solusi vs akar masalah. Dimnaa
PT SUS Environment menawarkan solusi berbasis teknologi untuk mengatasi persoalan sampah.
Namun pertanyaan mendasarnya, apakah masalah utama Makassar terletak pada kurangnya teknologi, atau justru pada tata kelola sampah yang belum efektif sejak dari sumber?.
“Jika sampah terus meningkat tanpa pengurangan, pemilahan, dan perubahan pola konsumsi, maka teknologi berisiko hanya mengelola gejala, bukan menyelesaikan akar masalah. Di satu sisi perusahaan menawarkan solusi lingkungan.
Namun di sisi lain, masyarakat berhak juga mempertanyakan
Seberapa besar emisi yang dihasilkan, bagaimana pengelolaan residu dan abu sisa, apa dampaknya terhadap kesehatan warga sekitar, siapa yang memperoleh manfaat ekonomi terbesar,”kata Yusran, Sabtu (30/5/2026).
Yusran menegaskan paradoksnya, solusi lingkungan bisa menjadi sumber persoalan baru jika aspek kesehatan, transparansi, dan pengawasan tidak dijalankan secara ketat.
“Partisipasi publik melalui dialog itu langkah positif. Namun partisipasi masyarakat tidak cukup hanya pada tahap sosialisasi. Masyarakat perlu dilibatkan dalam kajian dampak lingkungan, pengawasan operasional, akses informasi emisi,
evaluasi berkala proyek. Tanpa itu, partisipasi berpotensi berubah menjadi sekadar legitimasi formal. Dan saya orang yang akan lakukan class action jika memang PT SUS Environment Gelar tidak komitmen taat dan patuh terhadap perencanaan perlindungan lingkungan hidup,” jelas Yusran.
Karena itu, teknologi pengolahan sampah lanjut Ketua Forum Komunitas Hijau seharusnya menjadi pelengkap, bukan pengganti strategi pengurangan sampah dari sumbernya.
“Kehadiran PT SUS Environment dapat dipandang sebagai peluang menghadirkan inovasi pengelolaan sampah. Namun keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari kemampuan mengolah tonase sampah, melainkan juga dari transparansi, keamanan lingkungan, kesehatan publik, serta kontribusinya terhadap pengurangan sampah secara nyata.
Pertanyaan yang perlu terus dijaga adalah, apakah kota sedang membangun solusi untuk sampah, atau justru membangun sistem yang membutuhkan sampah terus-menerus agar tetap berjalan? Itu menjadi ukuran penting keberlanjutan sebuah proyek lingkungan.
Menariknya, dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, panitia juga berupaya menghadirkan nilai-nilai ekologis dalam perayaan kurban.
Kiatnya bukan sekadar estetika atau kemasan kegiatan yang terlihat ramah lingkungan, tetapi bagaimana membangun identitas kurban yang kuat sebagai wujud kepedulian terhadap manusia dan alam.
Dalam perspektif ini, kurban tidak hanya dimaknai sebagai ibadah penyembelihan hewan, tetapi juga memiliki dimensi pemberdayaan ekologi dan kepedulian sosial.
Karena itu, sesuai pantauan panitia berupaya meminimalisasi penggunaan plastik sekali pakai agar makna kurban memiliki sentuhan nyata terhadap pemberdayaan ekologi dan pengurangan sampah.
Selain itu, seluruh proses penyelenggaraan kurban dirancang berlangsung dengan seminimal mungkin menghasilkan limbah. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi distribusi sampah di sekitar lokasi penyembelihan sekaligus membangun kesadaran, bahwa nilai pengorbanan dalam Idul Adha juga harus tercermin dalam tanggung jawab menjaga lingkungan.
Dengan demikian, kurban tidak berhenti pada ritual keagamaan semata, tetapi menjadi momentum membangun solidaritas sosial, memperkuat budaya hidup berkelanjutan, dan meneguhkan identitas masyarakat yang peduli terhadap keberlanjutan bumi.
Terpisah, pihak PT SUS Environment yang coba dikonfirmasi hingga sekarang belum memberikan jawaban terkait rute oprasional armada pengangkut bahan baku di PSEL Tamalanrea.Selain itu,PSEL Tamalanrea juga diduga belum memiliki izin Amdal ( Analisis Dampak Lingkungan Hidup) hingga saat ini.(*)













